TOPIKINDONESIA.COM – Hati terasa hancur saat mengetahui bahwa orang yang kita idamkan ternyata sudah menjadi milik orang lain, mungkin sudah punya kekasih atau bahkan sudah menikah.
Namun, perasaan ini kadang datang tanpa diundang, dan sulit rasanya untuk langsung menghapus bayangan tentang dirinya dari pikiran kita.
Tapi ingat, jangan biarkan cinta membutakan dan membuat kita terjerumus menjadi pelakor atau pebinor — istilah yang kini begitu familiar di telinga.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
EngineAI Resmikan Pabrik Cerdas di Shenzhen, Robot Humanoid T800 Mulai Dikirim secara Massal
Gravity Game Unite (GGU) Tutup OBT MMORPG PC “Ragnarok Zero: Global” dengan Sukses Besar

SCROLL TO RESUME CONTENT
Beberapa dari kita mungkin merasa ini bukan pertama kalinya jatuh cinta pada orang yang tak bisa dimiliki.
Mengapa ini bisa terjadi? Apakah kita begitu sial? Tidak selalu. Karena perasaan seperti ini dialami oleh banyak orang di luar sana.
Ada alasan di balik mengapa kita kerap jatuh cinta pada mereka yang ‘tidak mungkin’ untuk kita miliki.
Baca Juga:
Menurut Susan Winter, seorang penulis dan ahli hubungan, beberapa orang secara bawah sadar ingin merasakan permainan cinta yang tak terjangkau, sementara yang lain mencari rasa aman dari risiko terluka dalam hubungan.
Secara logis, mengejar seseorang yang tak mungkin kita miliki hanya membuat hati ini takut akan cinta, takut terluka lebih dalam.
Namun, di sisi lain, ada sebagian dari kita yang justru merasakan dorongan emosional, seakan cinta terlarang ini adalah sebuah petualangan yang menggoda.
“Daya tarik pada orang yang tak bisa dimiliki memberikan kita kesempatan untuk merasakan gejolak emosi tanpa harus menghadapi ancaman keintiman yang sesungguhnya,” kata Winter.
Baca Juga:
Perkuat Hubungan dengan Masyarakat, Musim Mas Salurkan Hewan Kurban di Berbagai Wilayah Operasional
“Ini cara aneh yang memenuhi hasrat akan tantangan hidup, namun tetap ada perasaan aman di dalamnya.”
Tentu saja, ini bukan satu-satunya alasan mengapa kita kerap jatuh cinta pada orang yang ‘tak seharusnya’.
Menurut Benjamin Ritter, pendiri Live for Yourself Consulting, ketertarikan ini sebenarnya gabungan dari naluri alamiah dan pengalaman hidup kita.
“Mungkin kita melihat orang yang sudah punya pasangan sebagai sosok yang lebih bernilai, karena mereka tak bisa memberikan perhatian penuh, dan ini membuat kita merasa tertantang untuk merebut hatinya.”
Secara mendalam, menginginkan sesuatu yang tak bisa dimiliki adalah bagian dari sifat dasar manusia.
“Penting untuk mencari tahu alasan sebenarnya mengapa kita tertarik pada seseorang yang tak bisa dimiliki.
Apakah karena sifat atau karakternya, atau ada sesuatu dalam diri kita yang menganggap hubungan ini sebagai sebuah permainan untuk dimenangkan?” ujar Ritter.
“Mungkin, kita merasa lebih aman karena kita tahu mereka tidak sepenuhnya bisa dimiliki, sehingga kita tidak perlu menghadapi ketakutan akan penolakan atau luka yang nyata.”
Namun, jika pola ini terus berulang, mungkin sudah saatnya berhenti dan memilih jalan lain.
Carilah seseorang yang benar-benar ada untuk kita, bukan sekadar bayangan cinta yang sulit diraih.
“Mengejar seseorang yang sudah pasti tak bisa kita miliki adalah hal yang sia-sia dan melelahkan,” kata Ritter.
“Lebih baik kita fokus pada diri sendiri, dan melangkah maju mencari cinta yang nyata dan bisa memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya.”



















